“Sih, kamu dicari temanku,” kata Mas Deni seraya mendekatiku.
“Teman yang mana Mas,” tanyaku sambil mengingat-ingat teman mana yang dimaksud Mas Deni.
“Itu, temanku yang namanya Hendro, rumahnya di depan toko Cahya.”
“Kira-kira aku udah tau wajahnya belum?”
“Maksudnya?” tanya Mas Deni tidak mengerti.
“Ya maksudnya apakah aku udah kenal sebelumnya?” tanyaku bermaksud menjelaskan ke Mas Deni.
“Lho, dia mau kenalan sama kamu,” tambahnya, “Berarti dia ya belum kenal tho sama kamu, karena belum kenal makanya dianya mau kenalan sama kamu.”
“Oo, maksudnya dia mau kenalan?” sahutku tanpa dosa. “Eh, tadi kok kata Mas Deni dia nyari aku, kalo nyari berarti khan aku udah kenal?”
“Eh, ini anak, serius lho ini, bahkan duarius,” katanya menegaskan.
“Oke, oke, kapan dia mo kenalan? Trus kenapa dia mo kenalan? Emang dia udah tau aku? Taunya dimana?” tanyaku tak mau kalah.
“Teman yang mana Mas,” tanyaku sambil mengingat-ingat teman mana yang dimaksud Mas Deni.
“Itu, temanku yang namanya Hendro, rumahnya di depan toko Cahya.”
“Kira-kira aku udah tau wajahnya belum?”
“Maksudnya?” tanya Mas Deni tidak mengerti.
“Ya maksudnya apakah aku udah kenal sebelumnya?” tanyaku bermaksud menjelaskan ke Mas Deni.
“Lho, dia mau kenalan sama kamu,” tambahnya, “Berarti dia ya belum kenal tho sama kamu, karena belum kenal makanya dianya mau kenalan sama kamu.”
“Oo, maksudnya dia mau kenalan?” sahutku tanpa dosa. “Eh, tadi kok kata Mas Deni dia nyari aku, kalo nyari berarti khan aku udah kenal?”
“Eh, ini anak, serius lho ini, bahkan duarius,” katanya menegaskan.
“Oke, oke, kapan dia mo kenalan? Trus kenapa dia mo kenalan? Emang dia udah tau aku? Taunya dimana?” tanyaku tak mau kalah.
.jpg)

